Surakarta – Langkah kaki Ikhwan Ramadhana terasa mantap saat meninggalkan Bireuen, wilayah yang masyhur dengan sebutan Kota Juang, pada Kamis, 21 Mei 2026. Sendirian ia bertolak menuju Kota Surakarta, Jawa Tengah. Di pundaknya ada amanah besar untuk menjemput sebuah penghargaan bergengsi yang telah dinanti-nanti selama bertahun-tahun oleh segenap keluarga besar Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen, Aceh.
Perjalanan Ikhwan adalah puncak dari sebuah konsistensi yang panjang. Di bawah payung Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Swasta Al Zahrah, pesantren ini secara luar biasa berhasil melahirkan 48 karya buku dalam kurun waktu empat tahun terakhir, yakni sepanjang periode 2021 hingga 2024. Berkat produktivitas yang mengagumkan tersebut, Nyalanesia selaku Pengembang Program Literasi Nasional melayangkan undangan resmi bernomor 2500/Nyala/M.E-2/FLN/III/2026. Al Zahrah dipanggil secara terhormat untuk menghadiri Festival Literasi Nasional (FLN) 2026 di Surakarta.
Prestasi ini bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit. Jika menengok ke belakang, aroma literasi telah lama wangi di pesantren ini. Pada tahun 2021, seorang alumnus bernama Nanda Rezeki dinobatkan sebagai duta literasi nasional usai menyabet Juara 1 lomba menulis puisi antar santri dan pelajar se-Indonesia. Virus kreatif itu segera menular ke para pendidik. Dua tahun berselang, pada 2023, guru Al Zahrah masuk dalam nominasi 30 penulis terbaik kategori guru tingkat nasional. Setahun kemudian, giliran karya puisi guru mereka menembus kurasi 100 terbaik di tanah air.
Tahun 2026 ini, lewat program Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) Nasional yang digagas bersama Nyalanesia, grafik prestasi mereka meroket tajam. Al Zahrah sukses memuncaki klasemen sekolah tertinggi di Indonesia, mengungguli sembilan sekolah lain dengan raihan 21 voucer penerbitan buku. Ketika sekolah lain rata-rata hanya mengumpulkan 4 hingga 11 poin, Al Zahrah melesat sendirian dan mengukuhkan dirinya sebagai Sekolah Percontohan Literasi Nasional.
Maka, mengirimkan Ikhwan Ramadhana sebagai representasi ke Surakarta adalah keputusan yang sangat tepat. Sebagai Direktur Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) sekaligus pegiat literasi, ia telah membuktikan dedikasinya lewat tiga buku nyata yang ia tulis sendiri: Dibalik Pandangan Mereka (2021), Karsa Yang Amerta (2023), dan Qalam Titik Santri (2024).
Bagi pimpinan pesantren, Tgk. H.M Fadhil Rahmi, Lc, M.Ag, keberangkatan delegasinya tahun ini akhirnya memecah kebuntuan masa lalu. Fakta menarik terungkap bahwa ini adalah kali keempat Al Zahrah menerima undangan istimewa ke panggung FLN di Pulau Jawa. Namun, catatan sejarah sebelumnya menyisakan cerita yang berbeda karena keterbatasan kondisi.
“Sebelumnya adalah di tahun 2021, 2023 dan 2024 kita belum siap, ahamdulillah tahun 2026 kita memberangkatkan ustaz Ikhwan untuk merima penghargaan langsung,” sebut Tgk Fadhil.
Bagi Ikhwan sendiri, mandat ini memicu keharuan yang mendalam. Di tengah persiapan menghadiri puncak acara pada Sabtu, 23 Mei 2026, ia menyampaikan apresiasi terdalamnya kepada yayasan dan pimpinan yang telah memercayainya selama ini.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya saya haturkan kepada Bapak Pimpinan Pesantren. Terima kasih atas doa, kesempatan, dan dukungan penuh yang selalu diberikan, sehingga saya bisa melangkah sejauh ini dan mengantarkan karya-karya santri ke level nasional,” ungkap Ikhwan penuh rasa terharu.
Bagi Ikhwan, penghargaan di Surakarta bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan bahan bakar baru untuk membakar semangat menulis di bilik-bilik pesantren. Ia ingin momentum nasional ini menular kepada seluruh santri dan sejawatnya agar konsistensi mereka tidak padam.
“Teruslah budayakan membaca, menulis dan berkarya!” imbuhnya penuh semangat.
Festival Literasi Nasional (FLN) sendiri diakui sebagai salah satu kiblat perayaan literasi paling bergengsi di Indonesia. Sejak digulirkan pertama kali pada tahun 2016, festival yang diinisiasi oleh Nyalanesia ini telah menjangkau puluhan ribu peserta dari 38 provinsi di Indonesia dengan total hadiah mencapai miliaran rupiah.
Melalui program unggulannya, GSMB Nasional, Nyalanesia memfasilitasi siswa dan guru dari jenjang SD hingga SMA untuk menerbitkan buku, mendapatkan pelatihan, sertifikasi kompetensi, serta pendampingan literasi secara terpadu. Dari ujung Sumatra, Pesantren Al Zahrah Bireuen kini telah membuktikan bahwa sekat-sekat dinding pesantren bukanlah pembatas untuk merajai panggung kreativitas nasional. Lewat goresan pena, para santri dan guru telah membawa nama Aceh terbang tinggi ke jantung Pulau Jawa.
