News  

Syeh Marzawi, Putra Aceh Utara Lima Kali Tampil di MTQ Nasional

Syeh Marzawi (tengah), (Foto/Ist)

SEMARANG – Syeh Marzawi, putra Gampong Blang Ara, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, kembali memperkuat kafilah Provinsi Aceh pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) 2026 di Semarang, Jawa Tengah.

Keikutsertaannya tahun ini menjadi penampilan kelima Marzawi pada ajang MTQ tingkat nasional. Ia pertama kali dipercaya mewakili Aceh pada 2016.

Pria yang kini menjadi ayah satu anak itu mulai mengenal kaligrafi ketika duduk di bangku Tsanawiyah pada 2008. Saat itu, ia menempuh pendidikan di Pesantren Nurul Iman, Cot Girek. Dari lingkungan pesantren tersebut, ketertarikannya terhadap seni menulis ayat-ayat Al-Qur’an tumbuh dan terus diasah hingga sekarang.

Perjalanan itu kemudian mengantarkannya menjadi salah satu peserta yang kembali dipercaya membawa nama Aceh di tingkat nasional.

“Ini kali kelima saya ikut MTQ tingkat nasional mewakili Aceh. Alhamdulillah, selama saya ikut selalu mendapat juara, cuma kali ini yang tidak,” ujar Syeh Marzawi saat dihubungi melalui telepon seluler, Jumat (18/9/2026).

Ia mengatakan, dalam empat keikutsertaan sebelumnya, dirinya meraih juara II sebanyak dua kali, juara III sekali, dan juara Harapan I sekali.

Pada MTQN 2026, Marzawi tampil pada cabang Khattil Qur’an golongan Hiasan Mushaf. Ia bersaing dengan 38 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

Dalam perlombaan tersebut, ia menempati urutan kesembilan. Hasil itu berbeda dari empat penampilan sebelumnya yang selalu menghasilkan prestasi.

Menurut Marzawi, persiapannya menghadapi MTQN tahun ini belum maksimal. Padahal, cabang kaligrafi membutuhkan kesiapan teknik, ketelitian, serta waktu pengerjaan yang matang.

“Persiapan kurang, persaingan bertambah berat. Kali ini saya mendapat urutan ke sembilan dari 38 peserta dari seluruh Indonesia,” katanya.

Meski belum kembali meraih juara tahun ini, pengalaman tampil lima kali di tingkat nasional menjadi bagian penting dalam perjalanan Marzawi menekuni seni kaligrafi.

Aktivitasnya pun tidak berhenti di arena perlombaan. Sehari-hari, ia membagikan keterampilan tersebut kepada generasi muda.

Marzawi tercatat sebagai pengajar ekstrakurikuler di MIN 6 Aceh Utara, Kecamatan Samudera. Selain itu, ia mengajar di Pesantren Al Muslimun, Lhoksukon.

Di rumahnya, ia juga membuka kursus bagi anak-anak yang ingin mempelajari seni menulis indah ayat-ayat Al-Qur’an.

Keahliannya turut digunakan untuk mengerjakan tulisan kaligrafi dan ukiran pada sejumlah masjid di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

Bagi Marzawi, kaligrafi bukan sekadar cabang perlombaan dalam MTQ. Seni tersebut telah menjadi keterampilan yang terus dipelajari sekaligus ilmu yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia berharap pembinaan peserta MTQ, khususnya cabang kaligrafi, dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya menjelang pelaksanaan perlombaan.

“Setelah kita mendapat juara pertama di tingkat provinsi, untuk MTQ tingkat provinsi berikutnya kita tidak boleh mengambil kategori yang sama. Jadi terpaksa harus belajar kembali. Untuk itu perlu waktu, pembinaan dan perhatian,” ujarnya.

Dari sebuah pesantren di Aceh Utara pada 2008, Marzawi memulai perjalanannya di dunia kaligrafi. Delapan belas tahun kemudian, keterampilan tersebut telah membawanya lima kali tampil di panggung MTQ nasional.

Kini, selain tetap mengikuti perlombaan, ia menjalankan peran lain dengan mengajarkan kaligrafi kepada anak-anak di Aceh Utara. Ia berharap seni menulis ayat-ayat Al-Qur’an tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus tumbuh dan melahirkan penerus baru.

Penulis : Zaman Huri