News  

Hari Santri Meriah, Duta Santri Tak Dibangkitkan di Aceh Utara

(Foto/Ist)

ACEH UTARA – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Aceh Utara berlangsung meriah di lapangan depan Kantor Bupati, Kamis (22/10/2026). Namun, di tengah semangat membangkitkan peran santri, Jihan Fanyra, putri daerah yang meraih Juara II Duta Santri Nasional 2025, justru tidak dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Fakta itu ditemukan redaksi saat menelusuri keterlibatan santri berprestasi asal Aceh Utara dalam peringatan Hari Santri. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jihan membenarkan bahwa dirinya tidak menerima undangan.

“Ia benar pak, Jihan tidak dapat undangan,” ujarnya.

Jihan merupakan putri asal Gampong Lancang Barat, Kecamatan Dewantara, yang telah mengharumkan nama Aceh Utara di tingkat nasional. Selain meraih Juara II Duta Santri Nasional 2025, ia juga pernah mewakili Aceh dalam program Santri Mendunia bersama peserta dari berbagai provinsi. Program tersebut mencakup kegiatan di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Sebagai Duta Santri Nasional, Jihan mengemban misi pengembangan kapasitas santri, termasuk menyiapkan kader intelektual yang berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

“Sebagai Duta Santri Nasional kami punya misi untuk menghimpun dan mempersiapkan kader-kader intelektual santri di seluruh negeri sebagai penerus perjuangan bangsa dalam satu wadah organisasi yang berlandaskan asas Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.

Tidak dilibatkannya Jihan memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana pemerintah daerah dan panitia mendata serta memberikan ruang kepada santri berprestasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan dunia kesantrian.

Padahal, Hari Santri semestinya menjadi momentum untuk memperkuat peran santri sekaligus menginspirasi generasi muda. Kehadiran figur seperti Jihan dapat menjadi kesempatan bagi santri lainnya untuk belajar dari pengalaman di tingkat nasional.

Jihan mengaku bersedia berbagi pengalaman apabila diberi kesempatan, meskipun saat ini sedang menjalani praktik perkuliahan di Banda Aceh.

“Jika dilibatkan tentu akan sangat lebih bersinergi untuk mewujudkan sesuatu. Tentu Jihan dapat berbagi pengalaman bersama teman-teman santri,” ujarnya.

Persoalan ini bukan sekadar tentang hadir atau tidaknya seorang duta santri dalam seremoni. Lebih dari itu, hal tersebut menyangkut bagaimana prestasi anak daerah dikenali dan diberi ruang untuk berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia, khususnya di lingkungan pendidikan dayah.

Saat dikonfirmasi, Plt. Kepala Dinas Dayah Aceh Utara, Tgk. Muhammad Yunus, S. Hi mempertanyakan jenis perlombaan yang diikuti Jihan. Ia menjelaskan bahwa program pembinaan santri di dinas tersebut berfokus pada perlombaan baca kitab kuning di tingkat provinsi dan nasional.

“Perlombaan apa yg di ikuti jihan, Program dinas dayah untuk santri hanya baca kitab kuning tingkat propinsi dan nasional, Sesuai tupoksi dinas dayah saat ini,” sebutnya.

Ia juga menjelaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional merupakan tugas dan fungsi Kementerian Agama, sedangkan Dinas Dayah Aceh Utara membantu menyukseskan kegiatan tersebut.

“Mengenai hari santri nasional bisa dikoordinasikan dengan kemeneg selaku pelaksana di lapangan,” ungkap Tgk. Yunus.

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Utara, Yusri, S.Ag., M.AP., belum memberikan tanggapan hingga berita ini ditulis. Permintaan konfirmasi yang disampaikan melalui pesan WhatsApp juga belum mendapat respons.

Di tengah semangat pemerintah daerah menggaungkan visi Aceh Utara Bangkit, tidak dilibatkannya Jihan menjadi catatan yang patut diperhatikan. Semangat kebangkitan semestinya juga tercermin dalam cara daerah mengenali, mengapresiasi, dan memberi ruang kepada putra-putri berprestasi.

Penulis : Zaman Huri