Lhokseumawe – Dentuman rapai memecah sunyi malam di Gampong Blang Crum, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Minggu (2/8/2026) dini hari. Puluhan penabuh duduk melingkar dengan rapai di pangkuan, tangan mereka bergerak serempak mengikuti aba-aba sang kali rapai. Di sisi panggung, atraksi debus memancing decak kagum penonton. Sementara di sudut lain, aroma kopi dan bulukat hangat mulai mengepul, menjadi teman setia bagi mereka yang memilih bertahan hingga menjelang Subuh.
Suasana seperti itu mengingatkan masyarakat Aceh pada sebuah ungkapan lama yang masih akrab terdengar, “Peunajoeh timphan, piasan rapai.” Jika timphan menjadi sajian istimewa dalam sebuah hajatan, maka rapai adalah piasan-seni yang menghidupkan suasana sekaligus mempererat kebersamaan.
Bagi masyarakat Aceh, rapai bukan sekadar alat musik pukul. Ia adalah denyut tradisi yang telah hidup dari generasi ke generasi, mengiringi syiar Islam, pesta rakyat, hingga berbagai perhelatan adat.
Rapai terdiri dari baloeh, yakni badan alat musik yang dipahat dari kayu keras pilihan seperti tualang atau merbau. Permukaannya dibalut kulit ternak yang direntangkan hingga menghasilkan bunyi khas. Pada sebagian jenis rapai, ditambahkan prik, yaitu lempengan tembaga di sisi baloeh yang menghasilkan suara “kcrik” sebagai pelengkap irama.
Sebagian besar rapai menggunakan kulit kambing. Namun, Rapai Pase yang berukuran jauh lebih besar menggunakan kulit sapi agar mampu menghasilkan resonansi yang lebih kuat.
Di Aceh, ragam rapai berkembang mengikuti kekhasan daerah masing-masing. Ada Rapai Uroeh, Rapai Tuha yang berkembang di wilayah Nagan Raya, Rapai Pulot, Rapai Sanggar, hingga Rapai Pase yang dikenal sebagai rapai berukuran raksasa.
Perbedaannya tampak dari ukuran. Rapai Uroeh memiliki diameter sekitar 19 hingga 19,5 inci. Rapai Pulot dan Rapai Sanggar lebih kecil, berkisar 12 hingga 13 inci. Sementara Rapai Pase dapat mencapai diameter sekitar 26 hingga 27 inci dengan berat hingga 30 kilogram. Karena ukurannya yang besar, alat musik ini dimainkan dalam posisi digantung sehingga lebih dikenal sebagai rapai gantung.
Di balik dentuman yang terdengar gagah, ternyata keindahan rapai tidak diukur dari kerasnya suara.
Hal itu diungkapkan Ispikar (50), pegiat Rapai Uroeh dari Grup Keutapang Payong, Gampong Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Hampir 15 tahun terakhir, ia mengabdikan dirinya untuk melestarikan kesenian tersebut.

Awalnya, ketertarikannya muncul hanya karena rasa penasaran. Ia mencoba ikut berlatih bersama teman-temannya. Namun, semakin lama, alunan rapai justru membuatnya jatuh hati.
“Keindahan suara rapai terletak pada aloeun atau alunannya, bukan karena suaranya besar saja,” ujar Ispikar, usai menabuh rapai melawan tuan rumah Blang Crum.
Menurutnya, memainkan Rapai Uroeh membutuhkan kekompakan yang tinggi. Satu grup sedikitnya terdiri atas 28 orang saat dimainkan dan tidak boleh kurang, meskipun jumlah pemain boleh lebih banyak.
Pertunjukan dipimpin seorang kali rapai yang duduk di bagian tengah. Di kanan dan kirinya terdapat lima orang apet yang menjadi penyangga ritme sebelum diikuti seluruh pemain.
“Kalau satu orang saja terlambat memukul, iramanya langsung terasa berubah. Karena itu pemain harus saling mendengar dan saling mengikuti,” katanya.
Dalam satu pagelaran Rapai Uroeh atau turnamen, sedikitnya terdapat tujuh irama yang dimainkan, yakni Pruk, Gum Saboh, Ombak Meu Alon, Putroe Malem, Gum Lhee, Creng Panyang, dan Dike.
Irama Pruk dimainkan sebagai pembuka sekaligus penutup pertunjukan. Sementara pada irama Dike, para pemain melantunkan selawat dan puji-pujian dalam bahasa Aceh, menjadikan pertunjukan bukan hanya bernilai seni, tetapi juga mengandung pesan-pesan religius.
Menurut Ispikar, kualitas bunyi rapai dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain kemampuan pemain, kualitas baloeh dan kulit menjadi penentu utama.
Untuk menjaga kekencangan kulit, digunakan seudak, yakni rotan yang dipasang pada rapai. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan sehingga suara yang dihasilkan tetap nyaring dan seimbang.
Tradisi Rapai Uroeh lazim dimainkan pada malam hari hingga menjelang Subuh. Selain menjadi bagian dari perlombaan atau pagelaran budaya, rapai juga sering diundang untuk memeriahkan berbagai kegiatan masyarakat.
Menariknya, ada satu tradisi yang hampir tak pernah ditinggalkan. Ketika malam memasuki tengah perjalanan, panitia biasanya menyuguhkan bulukat u atau teukeurabee, yakni ketan hangat yang disantap bersama secangkir kopi.
“Bahkan dari zaman dahulu, kalau ada uroeh rapai selalu disediakan bulukat. Mudah dibuat, tidak merepotkan, dan biayanya juga murah,” tutur Ispikar.
Di banyak pagelaran, dentuman rapai hampir selalu berdampingan dengan atraksi debus. Keduanya seperti menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Irama rapai membangun semangat, sementara debus menghadirkan keberanian dan ketangkasan yang memikat perhatian penonton.
Menjelang azan Subuh, irama Pruk kembali ditabuh sebagai penutup. Satu per satu pemain meletakkan rapai di lantai. Keringat yang membasahi wajah mereka dibayar lunas oleh tepuk tangan penonton yang bertahan hingga akhir.
