ACEH UTARA – Lima potongan kayu berbentuk lesung berjajar di salah satu sudut stan Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Utara. Di sampingnya terdapat alu panjang dari pelepah aren. Bagi sebagian pengunjung Piasan Pase, benda itu mungkin tampak sederhana. Namun, itulah Ale Tunjang, kesenian tradisional Aceh Utara yang kini semakin langka.
Ale Tunjang ditampilkan dalam pameran memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-800 Aceh Utara. Kehadirannya menjadi upaya mengenalkan kembali kesenian lama yang mulai jarang terdengar kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Kepala Sekretariat MAA Aceh Utara, Rahmadi, Selasa (7/9/2026), mengatakan Ale Tunjang dimainkan dengan cara menumbukkan alu secara bergantian pada lima potongan kayu yang telah dipahat menyerupai lesung.
Setiap potongan menghasilkan karakter bunyi yang berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi jenis kayu, ukuran, serta kedalaman pahatan.
“Ale tunjang terdiri dari 5 potongan kayu yang berbeda jenis sehingga antara satu dengan lainnya menghubungkan bunyi yang berbeda,” kata Rahmadi.
Selain itu, lanjut dia, kedalaman pahatan juga menjadi faktor kualitas bunyi. Setiap potongan kayu memiliki kedalaman lubang yang berbeda.
“Alat musik ini dibuat dari bak mane, bak mata u, bak bayu, dan bak siren,” ujarnya.
Adapun alu yang digunakan untuk menghasilkan bunyi dibuat dari pelepah pohon aren. Panjangnya bisa mencapai lebih dari tiga meter.

Dalam pertunjukan, bunyi tidak lahir dari satu orang pemain. Hingga 10 orang dapat terlibat dengan menumbukkan alu secara bergantian mengikuti pola irama. Permainan itu kemudian berpadu dengan syair yang dilantunkan oleh syahi.
Ale Tunjang juga dapat dikolaborasikan dengan kesenian tradisional lain, seperti seurune kale, seruling, dan rapai. Dalam perkembangannya, permainan rakyat tersebut bahkan pernah dikemas dalam bentuk tari.
Menurut Rahmadi, Ale Tunjang memiliki kaitan dengan perjalanan kebudayaan masyarakat Aceh Utara. Ia menyebut kesenian tersebut telah dikenal sejak masa Kesultanan Samudera Pasai dan pernah digunakan sebagai media penyampaian pesan keagamaan dan moral melalui syair.
“Pada masa itu, syair-syair yang dilantunkan oleh syekh berisi pesan-pesan agama dan moral,” katanya.
Namun, warisan tersebut kini menghadapi persoalan serius: semakin sedikit orang yang mampu memainkannya.
“Alat musik ini sekarang sudah langka, begitu juga para pemainnya. Salah satu yang masih ada pemainnya di Kecamatan Tanah Pasir,” kata Rahmadi.
Karena itu, membawa Ale Tunjang ke tengah keramaian Piasan Pase bukan sekadar memajang benda tradisional. Ada upaya untuk mempertemukan kembali generasi hari ini dengan kesenian yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh Utara.
Rahmadi berharap pengenalan di ruang publik seperti ini dapat mendorong generasi muda untuk mempelajari Ale Tunjang sebelum pengetahuan tentang cara memainkan dan makna di balik kesenian tersebut benar-benar hilang.
“Warisan seperti ini harus terus diperkenalkan agar tidak hilang dan dapat dikenal oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
