SEMARANG – Baru pertama kali mengikuti musabaqah, Amaliya Ash Shalihah langsung berhadapan dengan peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Gadis 19 tahun asal Gampong Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, itu kemudian menutup debut nasionalnya dengan menempati posisi kesembilan cabang Tafsir Bahasa Arab golongan putri pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah.
Amaliya menjadi salah satu peserta yang memperkuat kafilah Provinsi Aceh dalam ajang nasional tersebut. Namanya sampai ke panggung MTQN setelah melewati perjalanan berjenjang dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.
Semua bermula dari seleksi di tingkat kecamatan. Setelah dinyatakan lolos, Amaliya mengikuti MTQ Kabupaten Aceh Utara dan berhasil meraih juara pertama. Prestasi yang sama kembali diraihnya ketika mengikuti MTQ tingkat Provinsi Aceh.
Gelar juara pertama di tingkat provinsi itulah yang kemudian membawanya menjadi wakil Aceh pada MTQN XXXI di Semarang.
Menariknya, Amaliya sebelumnya tidak memiliki pengalaman mengikuti MTQ satu kali pun.
“Ini baru pertama kali saya ikut MTQ, mulai dari Kecamatan hingga Nasional,” sebut Amaliya melalui telepon saat dihubungi, Sabtu (19/9/2026).
Ia berbagi pengalaman tentang awal mula ketertarikannya mempelajari ilmu tafsir. Minat tersebut bermula dari tawaran orang tuanya.
“Awal mula mengenal tafsir berawal dari penawaran orang tua, kemudian berusaha dicoba, alhamdulillah bisa diminati,” kata Amaliya.
Dari mencoba, ia kemudian semakin serius mendalami tafsir. Menurut Amaliya, cabang tersebut memiliki keterkaitan erat dengan hafalan Al-Qur’an karena peserta juga dituntut memiliki hafalan 30 juz.
“Untuk cabang tafsir ini mencakup dua, ada tahfidznya 30 juz dan tafsirnya, jadi kesempatan besar buat belajar dan murajaah hafalannya,” ujarnya.
Bagi Amaliya, proses tersebut bukan sekadar persiapan menghadapi perlombaan. Hafalan dan tafsir menjadi bagian dari proses belajar yang terus ia jalani.
Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, putri pasangan Zakaria Muhammad Yahya dan Lailatul Juma’ti, cucu Abi Yahya, seorang praktisi Alquran.
Amaliya menempuh pendidikan dasar di SD Kutab Al Firdaus Lhokseumawe. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tingkat SMP di Pesantren Mataqu dan SMA di Pesantren Isykarima, Solo.
Kini, ia melanjutkan pendidikan tinggi sebagai mahasiswi semester pertama Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, jurusan Hukum Keluarga Islam.
Di luar aktivitas akademik dan Al-Qur’an, Amaliya menyimpan cita-cita untuk menggabungkan ilmu agama dengan bidang hukum. Ia ingin menjadi seorang pendakwah sekaligus berkiprah sebagai praktisi hukum.
“Cita-cita ingin menjadi da’iyah dan juga menjadi hakim yang adil atau sebagai advokat yang bijak serta bermanfaat,” kata Amaliya.
Pengalaman pertamanya di MTQ akhirnya membawa Amaliya sampai ke panggung nasional. Posisi kesembilan menjadi catatan awal dalam perjalanan panjangnya di bidang Al-Qur’an.
Namun, bagi Amaliya, pengalaman tersebut bukan alasan untuk berhenti belajar. Ia justru ingin perjalanan di MTQN Semarang menjadi pelajaran untuk terus meningkatkan kemampuan.
Kepada generasi seusianya, khususnya pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, Amaliya berpesan agar masa muda diisi dengan kegiatan yang memberi manfaat.
“Buat teman-teman yang masih di bangku SMP atau pun SMA manfaatkan waktu sebaik baik mungkin, jangan banyak waktu yang terbuang, cuma buat main-main, buat makan-makan dan nongkrong,” sebut Amaliya.
Menurut dia, waktu yang dimiliki pelajar dapat dimanfaatkan untuk mempelajari Al-Qur’an maupun berbagai ilmu yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Sebab, seseorang tidak pernah mengetahui ilmu yang dipelajari hari ini akan menjadi bekal yang berguna pada masa mendatang.
“Kita tidak pernah tau ilmu mana yang kita pelajari dulu bermanfaat di hari nanti,” ujarnya.
Bagi Amaliya, proses belajar memang membutuhkan kesabaran dan terkadang melelahkan. Namun, kelelahan itu akan jauh lebih berarti jika dibandingkan dengan penyesalan karena tidak memanfaatkan kesempatan untuk belajar.
“Seperti kata pepatah, lebih baik lelah dalam berilmu daripada lelah merasakan kebodohan di hari nanti,” pungkasnya.
