ACEH UTARA – Langkah Naylul A’rifa sampai ke panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, bermula dari tempat-tempat sederhana: rumah guru mengaji, balai, dan lingkungan keluarganya di Lhoksukon, Aceh Utara.
Siswi kelas V Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 Aceh Utara itu menjadi bagian dari kafilah Provinsi Aceh pada cabang Tartil Al-Qur’an golongan kanak-kanak. Peserta nomor 021 tersebut tampil pada Senin, 14 September 2026, di Studio Catwalk BNPB Kemnaker, Semarang.
Bagi Naylul, tampil di tingkat nasional merupakan kelanjutan dari perjalanan yang ia tempuh secara bertahap. Sebelum berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, ia terlebih dahulu mengikuti seleksi di tingkat Kecamatan Lhoksukon.
Pada seleksi tersebut, Naylul memilih cabang Tartil Al-Qur’an dan berhasil lolos. Ia kemudian mewakili Kecamatan Lhoksukon pada MTQ Aceh Utara ke-35.
Di tingkat kabupaten, penampilannya berbuah juara pertama. Hasil itu membawanya ke MTQ tingkat Provinsi Aceh. Lagi-lagi Naylul meraih juara pertama dan berhak masuk dalam kafilah Aceh untuk berlaga di MTQN XXXI di Semarang.
Di panggung nasional, debut itu berakhir dengan peringkat ke-11 cabang Tartil Al-Qur’an golongan kanak-kanak.
Pencapaian tersebut tidak datang tiba-tiba. Jauh sebelum namanya tercatat sebagai peserta MTQN, Naylul telah terbiasa belajar Al-Qur’an sejak kecil.
Ia merupakan putri pasangan Tgk. As’adi dan Nur Jannah, saat ini tercatat sebagai warga Gampong Mns Keh, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara. Naylul juga merupakan cucu almarhum Abi Mns Keh, ulama yang dikenal di Kecamatan Meurah Mulia.
Kedua orang tuanya merupakan alumni Dayah Lueng Angen, Langkahan, Aceh Utara. Nur Jannah merupakan adik dari Walidi, imam besar Masjid Agung Lhoksukon. Saat masih menetap di Lhoksukon Tgk. As’adi turut mengajar di dayah yang diasuh Walidi.
Keluarga Naylul sebelumnya tinggal di Lhoksukon, kampung halaman sang ibu. Setelah banjir melanda Aceh Utara pada November 2025, mereka baru pindah ke Mns Keh, kampung halaman ayahnya.
Perpindahan itu tidak mengubah kebiasaan Naylul dalam belajar Al-Qur’an. Sejak kecil, sang ayah justru aktif mencarikan guru agar kemampuan membaca Al-Qur’an putrinya terus berkembang.
“Waktu masih tinggal di Lhoksukon hampir setiap hari saya mengantar Nailul untuk belajar Al-Qur’an ke rumah-rumah guru, termasuk balai,” ujar Tgk. As’adi, Sabtu, (19/9/2026).
Dari sejumlah guru tersebut, kemampuan Naylul kemudian semakin terasah. Ketika mulai memasuki tahapan naik ke tingkat provinsi, ia belajar lebih intensif kepada Ustadzah Nursiah Nurdin di Tambon Baroh Dewantara.
Setiap Ahad, Tgk. As’adi mengantar putrinya ke tempat Nursiah untuk mengikuti pembinaan. Jarak dan perjalanan tidak menjadi persoalan bagi keluarga karena Naylul menunjukkan minat belajar yang kuat.
“Setiap hari minggu saya mengantar Nailul ke tempat ustadzah Nursiah di Kurukuh, minat belajarnya sangat tinggi,” kata Tgk. As’adi.
Ustazah Nursiah sendiri merupakan salah seorang qariah yang dikenal di Aceh Utara. Pada masanya, ia pernah mewakili Indonesia dalam ajang tilawah Al-Qur’an tingkat internasional.
Di bawah bimbingan keluarga dan para guru itulah kemampuan Naylul tumbuh. Dari belajar di rumah-rumah guru mengaji di Lhoksukon, ia kemudian beranjak ke panggung musabaqah tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga akhirnya tampil membawa nama Aceh di tingkat nasional.
Peringkat ke-11 yang diraihnya di Semarang menjadi catatan awal dalam perjalanan Naylul di arena MTQ nasional. Usianya yang masih belia membuat pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses panjangnya dalam belajar dan mencintai Al-Qur’an.
