News  

Tingkatkan Kualitas Bacaan Al-Qur’an, Guru dan Karyawan Al Zahrah Ikuti Program Tahsin Intensif

Foto: Ist

Bireuen – Sebanyak 31 guru dan karyawan Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen mengikuti Pelatihan Peningkatan Pemahaman dan Kemampuan Membaca Al-Qur’an (Tahsin) selama 10 hari, mulai 20 hingga 29 Juli 2026 bertepatan dengan 5–14 Safar 1448 H. Kegiatan dibuka langsung oleh Pimpinan Pesantren Tgk. H. M Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag pada Senin, 20 Juli 2026 pukul 21.05 WIB di Ruang Majelis Guru.

Pelatihan menghadirkan dua pelatih bersanad lulusan Timur Tengah yang tergabung dalam Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, yaitu H. Hendri Julian, M.Ed dan H. Azwani Putra, Lc, MA. Keduanya merupakan murid langsung Syekh Ayyub, ulama qiraat asal Aljazair yang juga Maha Guru bagi mahasiswa Aceh di Mesir.

Dalam sambutannya, Tgk. Fadhil menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan kualitas guru pesantren dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada santri sekaligus menetapkan standarisasi guru dalam memahami dan mempraktikkan bacaan Al-Qur’an sesuai tuntunan sunnah dan kaidah ilmu Tajwid.

“Kedua beliau ini merupakan andalan IKAT Aceh dalam hal Tahsin dan Qiraat yang sangat berpengalaman. Oleh karenanya silakan bersungguh-sungguh dan serius menggali ilmu,” pesan Tgk. Fadhil.

Tgk. Fadhil juga menegaskan, output dari penguatan Tahsin para guru ini adalah mengajarkan Tahsin kepada seluruh santri selama satu semester pertama tahun ajaran 2026/2027.

“Seluruh santri di satu semester pertama harus mengikuti kegiatan Tahsin dan ditargetkan tuntas. Setelah itu para santri diarahkan untuk fokus melanjutkan menghafal Al-Qur’an,” sebutnya.

Sementara itu, Ustaz Hendri Julian saat membuka pelatihan menekankan bahwa membaca Al-Qur’an adalah skill.

“Bagaimana pun seseorang menguasai teori, tanpa mempraktikkan akan rancu dan tidak memadai,” terangnya. Ia juga menyebut kemampuan dasar berbahasa Arab sebagai bekal utama guru Al-Qur’an.

Hal senada disampaikan Ustaz Azwani Putra. Ia menyebutkan tiga acuan dasar standar belajar Al-Qur’an yang baik dan benar, yaitu memiliki sanad yang benar, membaca Al-Qur’an sesuai Rasm Utsmani, dan kaidah bacaan mengacu pada ilmu Nahwu sehingga tidak menghilangkan makna.

Usai kegiatan pembukaan, para guru dan karyawan dibagi ke dalam dua kelas untuk mengikuti pembelajaran Tahsin secara intensif. Tiga pertemuan awal, peserta dibekali pemahaman dan konsep Tajwid, dan tujuh hari berikutnya mengikuti praktik langsung sesuai standar bacaan yang baik dan benar.

Penulis : RN