LHOKSUKON – Aroma durian menguar dari stan Kecamatan Langkahan di arena Pameran Milad ke-800 Samudera Pasai, Lapangan Landing, Lhoksukon. Namun, perhatian pengunjung tak berhenti pada buah unggulan itu.
Di sisi stan, foto-foto banjir terpajang. Gambar tersebut merekam wajah Langkahan ketika bencana merendam permukiman, aktivitas warga, proses evakuasi hingga penyaluran bantuan.
Konsep itu menjadi pembeda. Langkahan tidak hanya memamerkan potensi ekonomi, tetapi juga membawa kembali ingatan tentang bencana yang pernah menerjang wilayah tersebut.
Durian dari perkebunan masyarakat di kawasan perbukitan Langkahan menjadi salah satu daya tarik utama. Pengunjung dapat mencicipi buah tersebut sembari melihat dokumentasi banjir yang dipajang di bagian lain stan.
Camat Langkahan T. Reza Ichwan, S.STP., M.A.P., Kamis, (10/9/2026), mengatakan dua hal itu sengaja dipadukan untuk menggambarkan kondisi Langkahan secara utuh.
“Kami sengaja membawa komoditi durian andalan Langkahan ke pameran ini untuk menunjukkan potensi ekonomi kami. Di sisi lain, lewat pameran foto banjir ini, kami ingin memperlihatkan realita tantangan geografis yang kami hadapi sekaligus bukti ketangguhan, solidaritas, dan bangkitnya masyarakat Langkahan pasca-bencana,” ujarnya.
Foto-foto tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan banjir tidak selesai ketika air surut. Pemulihan rumah, infrastruktur dan mata pencaharian masyarakat tetap membutuhkan waktu. Kesiapsiagaan juga perlu diperkuat agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman serupa.
Sejumlah pengunjung terlihat bergantian mendatangi stan. Sebagian tertarik mencicipi durian, lainnya berhenti mengamati foto-foto banjir.
Melalui momentum Milad ke-800 Samudera Pasai yang dibuka Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau Ayah Wa, Langkahan juga memperkenalkan potensi durian dan agrowisata sebagai peluang ekonomi masyarakat.
Pameran itu akhirnya menjadi cerita tentang dua sisi Langkahan: tanah yang menghasilkan durian dan wilayah yang pernah diuji banjir.
Di antara aroma durian dan foto-foto bencana, ada pesan yang ingin disampaikan: bangkit tidak berarti melupakan. Pengalaman pahit justru perlu disimpan sebagai pelajaran untuk membangun Langkahan yang lebih tangguh.
