Berita  

Gema Ayat Suci Di Bekas Jejak Bumi Pasai: Dedikasi Sang Qari Walau Penonton Sepi

Lhoksukon – Al-kisah, tatkala malam mulai melabuhkan tirainya di atas hamparan tanah Lapangan Landing, Lhoksukon, angin bertiup membawa aroma sejarah yang ranum. Di sanalah, di sebuah panggung yang didirikan untuk memperingati delapan abad berdirinya marwah Islam di Asia Tenggara—Haul 800 Tahun Kesultanan Samudra Pasai—sebuah peristiwa yang menggetarkan sanubari terjadi.

Syahdan, lampu-lampu panggung telah berpijar dengan megahnya, memantulkan ornamen-ornamen kejayaan masa lalu yang bersanding dengan dekorasi zaman baru. Namun, pemandangan di bawahnya sungguh lengang. Kursi-kursi kosong berderet bak barisan prajurit yang kehilangan tuannya, dan riuh rendah manusia yang diharapkan memadati pelataran depan kantor Bupati Aceh Utara itu nyaris tak terdengar. Sepi telah merajai malam.

Maka bangkitlah para Qari Aceh level Internasional, para pelantun kalam ilahi yang namanya telah masyhur melintasi samudera. Tiada gundah di wajahnya, tiada pula surut langkahnya tatkala menatap hamparan ruang yang sunyi. Baginya, melantunkan ayat suci bukanlah perkara mencari sanjungan manusia, melainkan sebuah amanah langit yang harus ditunaikan ke bumi.

Maka dibukalah kalam mulia itu, dan mengalirlah firman Allah dari celah bibirnya. Suaranya meliuk-liuk dengan indahnya, laksana aliran sungai di surga, mengikuti irama Bayati yang syahdu dan memikat hati.
“Bismillahir rahmanir rahim…”

Demi mendengar bait-bait suci itu berkumandang, bergetarlah keheningan malam di tanah Pasee. Angin seolah berhenti berdesir, dan pepohonan menunduk takzim. Suara sang Qari melambung tinggi, menembus pekatnya awan, bergema di antara pilar-pilar sejarah yang runtuh namun tak pernah kehilangan jiwanya. Ia membaca dengan penuh tadabur, meliukkan nada dengan ketukan yang presisi, seakan-akan ia sedang berdiri di hadapan ribuan khalayak, atau bahkan di depan para sultan Pasai terdahulu.

Beberapa gelintir jiwa yang hadir di pelataran itu terpaku. Air mata menetes tanpa diundang, membasahi pipi-pipi mereka yang beruntung menjadi saksi. Tiada lagi peduli pada sepinya penonton. Sebab di malam itu, Lapangan Landing tidak sedang dikosongkan, melainkan sedang dipenuhi oleh para malaikat yang turun berduyun-duyun, membentangkan sayap-sayap cahaya demi menaungi sang pembaca firman Tuhan.

Hingga ayat terakhir ditutup dengan kalimat tashdiq, gema suci itu masih terasa mencengkeram dada. Sang Qari turun dari mimbar dengan ketenangan seorang pemenang. Di bawah langit Lhoksukon, ia telah membuktikan bahwa kemuliaan sebuah syiar tidak diukur dari tepuk tangan manusia, melainkan dari keikhlasan yang menggetarkan arsy-Nya. Samudera Pasai boleh saja sunyi malam itu, namun jiwanya tetap hidup dan menyala lewat bait-bait suci yang abadi.

Penulis : FK