LHOKSUKON – Suasana panggung utama Milad Samudera Pasai ke-800 di Lapangan Landing, Lhoksukon, Aceh Utara, berubah riuh ketika komedian Aceh Abdul Hadi, yang dikenal dengan nama Joni Kapluek, tampil menghibur masyarakat, Jumat malam (11/9/2026).
Joni Kapluek tampil bersama kelompok komedian yang selama ini dikenal luas masyarakat Aceh. Aksi mereka menjadi salah satu hiburan yang menarik perhatian warga di tengah rangkaian perayaan Milad Samudera Pasai ke-800.
Sejak naik ke panggung, Joni Kapluek langsung mengundang tawa penonton melalui dialog, celetukan, dan tingkah khas komedi Aceh. Gelak tawa dan tepuk tangan beberapa kali terdengar dari tengah kerumunan penonton.
Masyarakat yang memadati kawasan panggung utama tampak antusias mengikuti pertunjukan hingga selesai. Penampilan tersebut juga menjadi warna berbeda dalam rangkaian kegiatan milad yang sebelumnya diisi dengan agenda sejarah, keagamaan, budaya, sosial, dan seni.
Nama Joni Kapluek bersama kelompoknya melejit di dunia hiburan Aceh setelah dikenal melalui film komedi Eumpang Breuh, yang menjadi salah satu tontonan populer masyarakat Aceh.
Salah seorang penonton asal Kota Lhokseumawe, Yani, menilai konsep peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 cukup menarik karena menghadirkan berbagai unsur dalam satu rangkaian kegiatan.
“Konsep Milad Samudera Pasai ke-800 bagus. Rentetan agendanya mewakili berbagai unsur, mulai dari sejarah, budaya, agama hingga seni,” ujar Yani.
Menurut dia, variasi kegiatan membuat masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mengikuti rangkaian perayaan tersebut.
“Malam kemarin ada haflah Al-Qur’an, sebelumnya juga ada ceramah Tgk Habibi. Malam ini ada Bang Joni dan kawan-kawan untuk hiburan,” katanya.
Yani juga mengapresiasi kegiatan sosial yang ikut menjadi bagian dari rangkaian milad.
“Luar biasa, kegiatan sosial juga ada seperti penanaman pohon, santunan anak yatim hingga permainan rakyat,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai perayaan belaka, tetapi dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali sejarah dan kebudayaan Aceh Utara.
“Jadi bukan hanya hiburan, masyarakat juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan budaya daerah. Ini yang menurut saya membuat rangkaian milad terasa lebih lengkap,” katanya.
