Berita  

Di Balik Juara Nasional Raisya Annazira, Ada Doa Panjang Seorang Ibu

Balai pengajian di halaman rumah Raisya Annazira rusak akibat banjir November 2025, (Foto/ Zaman Huri), Kamis, (24/9/2026)

ACEH UTARA – Sisa banjir masih terlihat di halaman rumah itu.

Dua balai pengajian telah rusak. Lima bilik ikut terdampak. Di antara bangunan yang tersisa, sebuah mushala kecil berukuran sekitar 25 meter persegi masih berdiri.

Di salah satu sudut halaman, sebuah pamflet bertuliskan Miftahul Salam mulai pudar dimakan waktu. Namanya masih terbaca.

Dulu, tempat itu ramai oleh anak-anak yang datang mengaji.

Kini, sebagian bangunan yang menjadi saksi kegiatan tersebut tinggal menyisakan jejak setelah diterjang banjir Aceh Utara pada November 2025.

Kamis (24/9/2026) menjelang siang, rumah di Gampong Ampeh, Kecamatan Tanah Luas, itu tampak sederhana dan tenang.

Di sanalah Nur Azizah, 52 tahun, menjalani hari-harinya.

Ia adalah ibu dari Raisya Annazira, gadis yang beberapa hari sebelumnya berdiri di panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI di Semarang, Jawa Tengah.

Raisya pulang membawa gelar juara pertama Hifzh Al-Qur’an 30 Juz putri.

Namanya tercatat sebagai yang terbaik di antara peserta dari berbagai provinsi.

Namun, tidak ada pesta besar di rumah itu.

Tidak ada panggung. Tidak ada pengeras suara.

Hanya sebuah rumah sederhana, mushala kecil, dan seorang ibu yang kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Padahal, jauh sebelum Raisya berangkat ke Semarang, ada doa yang telah lebih dahulu mengiringi setiap langkahnya.

Rumah yang Menjadi Dunia Kecil

Sejak suaminya, Tgk. Razali, meninggal dunia pada 2024, sebagian besar hari Nur Azizah dihabiskan di rumah.

Tgk. Razali adalah guru SMP sekaligus ayah empat anak. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong dalam keluarga, terutama ketika Raisya baru menyelesaikan pendidikan di PPTQ dan sedang bersiap melanjutkan kuliah.

Tiga hari setelah ayahnya meninggal, Raisya harus berangkat mengikuti training camp persiapan MTQ Nasional di Kalimantan Timur.

Duka dan keberangkatan datang hampir bersamaan.

Nur Azizah tetap tinggal di rumah. Ia melanjutkan kehidupan, menjaga keluarga dan menemani anak-anaknya melewati masa yang tidak mudah.

Di rumah itulah kebiasaan ibadah yang telah dijalaninya sejak masih gadis terus dipertahankan.

Sekitar pukul 04.00, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Nur Azizah telah bangun. Tahajud menjadi pembuka, dilanjutkan zikir, membaca Al-Qur’an dan shalawat.

Menjelang Subuh, ia menuju mushala kecil di halaman rumah.

Selepas salat berjamaah, ia kembali membaca Yasin, berzikir dan bershalawat sebelum memulai pekerjaan rumah.

Di dapur, ia menyiapkan keperluan keluarga. Namun lisannya tetap bergerak melantunkan shalawat.

Menurut Nur Azizah, membaca shalawat sebanyak 1.000 kali sehari telah menjadi kebiasaan sejak ia masih gadis.

Di sela-selanya, ia membaca Ayat Seribu Dinar, Shalawat Al Busyra, Shalawat Nariyah dan Shalawat Munjiyat.

Selepas Dhuha, ia beristirahat. Setelah Zuhur, kembali berzikir dan berdoa. Selepas Asar, Surah Al-Waqiah dibaca. Malam hari diisi dengan mengaji dan wirid, sebelum ditutup dengan Surah Al-Mulk.

Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun.

Nyaris tanpa diketahui banyak orang.

Sebab Nur Azizah tidak terbiasa menceritakannya.

Ia Bahkan Tak Ingin Diceritakan

Ketika ditanya tentang kebiasaan ibadahnya, Nur Azizah sempat meminta agar bagian wawancara tersebut cukup direkam dalam bentuk audio.

Ia tidak ingin wajahnya, apalagi amalannya, dipertontonkan.

Ada kekhawatiran bahwa sesuatu yang seharusnya menjadi urusan pribadi justru berubah menjadi bahan pujian.

Setelah dijelaskan bahwa kisah tersebut bukan untuk memamerkan kesalehan, melainkan untuk menggambarkan sisi lain perjalanan Raisya menuju prestasi nasional, ia akhirnya bersedia bercerita.

Sikap itu justru membuat kisah tersebut terasa lebih kuat.

Bukan karena banyaknya amalan yang dilakukan, melainkan karena perempuan itu tidak ingin amalannya menjadi alasan orang mengenalnya.

Bagi Nur Azizah, semua itu hanyalah kebiasaan sehari-hari.

Sebagian bahkan telah dijalaninya jauh sebelum nama Raisya dikenal sebagai hafizah.

Pamflet Miftahul Jannah, Kamis, (24/9/2026), (Foto/ Zaman Huri)

Warisan yang Tumbuh di Halaman Rumah

Raisya tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan pendidikan agama.

Dari kedua garis keluarganya terdapat ulama. Salah satunya Tgk. Abdullah, kakeknya, yang lebih dikenal dengan panggilan Abi Dolah.

Jejak pendidikan agama itu juga pernah hidup di sekitar rumah melalui Miftahul Salam.

Anak-anak datang untuk belajar mengaji. Balai dan bilik menjadi tempat mereka mengenal huruf-huruf Al-Qur’an, doa dan ilmu agama.

Kini tempat itu tidak lagi seperti dahulu.

Banjir November 2025 merusak dua balai pengajian dan lima bilik.

Namun, ada sesuatu yang tidak ikut hanyut.

Tradisi.

Raisya tumbuh dalam keluarga yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketika ia memilih jalan sebagai penghafal Al-Qur’an, perjalanan tersebut bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba.

Ada lingkungan yang membentuknya.

Ada keluarga yang menguatkannya.

Dan ada seorang ibu yang terus menyertai dari rumah.

Ketika Raisya Bertanding

Semarang berjarak jauh dari Gampong Ampeh.

Saat Raisya berada di arena MTQN XXXI, Nur Azizah tetap menjalani hari-harinya di rumah.

Namun kali ini ada satu kebiasaan yang ia tingkatkan.

Surah Al-Fath dibacanya hingga tiga kali sehari.

Nama Raisya selalu hadir dalam doanya.

Saat putrinya tampil di hadapan dewan hakim, Nur Azizah tidak berada di sana.

Ia tidak melihat langsung bagaimana Raisya melewati setiap tahapan perlombaan.

Ia hanya menunggu kabar.

Bagi orang lain, menunggu mungkin sekadar menunggu.

Bagi seorang ibu, menanti kabar anak yang sedang bertanding di tingkat nasional setelah melalui perjalanan panjang tentu memiliki cerita sendiri.

Hingga akhirnya kabar itu datang.

Raisya Annazira meraih juara pertama Hifzh Al-Qur’an 30 Juz putri MTQN XXXI.

Raisya Annazira didampingi ibunya Nur Azizah usai dipeusijuek oleh Ketua MPU Aceh Utara, Abu Manan, Kamis, (24/9/2026), (Foto/Zaman Huri)

Namun kemenangan itu tidak menghapus cerita yang telah berlangsung jauh sebelumnya.

Bukan Hanya Tentang Juara

Di balik trofi yang dibawa pulang Raisya, ada kisah sebuah keluarga.

Ada seorang ayah yang telah lebih dahulu pergi.

Ada seorang ibu yang meneruskan kehidupan bersama anak-anaknya.

Ada lingkungan pendidikan agama yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Ada balai pengajian yang kini rusak, tetapi pernah menjadi bagian dari masa kecil banyak anak di Gampong Ampeh dan sekitarnya.

Dan ada doa yang tidak pernah masuk ke panggung perlombaan.

Nur Azizah tidak pernah berdiri di hadapan dewan hakim.

Namanya tidak disebut ketika Raisya menerima penghargaan.

Ia tidak mendapat sorotan ketika putrinya menjadi juara.

Tetapi dari rumah sederhana itu, ia mengirimkan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka.

Doa.

Kini, setelah Raisya dinyatakan sebagai juara nasional, kehidupan di rumah itu kembali berjalan seperti biasa.

Mushala kecil masih berdiri di halaman.

Pamflet Miftahul Salam masih menjadi penanda masa lalu.

Bangunan yang rusak akibat banjir masih menyimpan jejak perjalanan keluarga tersebut.

Dan Nur Azizah tetap bangun sebelum fajar.

Ia menunaikan tahajud, membaca Al-Qur’an, bershalawat, mengurus keluarga, lalu kembali menjalani hari.

Tidak banyak yang berubah hanya karena putrinya menjadi juara nasional.

Sebab bagi seorang ibu, mungkin kemenangan anak bukanlah akhir dari doa.

Setelah nama Raisya disebut sebagai juara, doa itu tetap berjalan.

Diam-diam.

Dari sebuah rumah sederhana di Gampong Ampeh.

Penulis : Zaman Huri